Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Memberi Apresiasi Keberhasilan Vs Fokus Mencari Kesalahan Anak

Suatu hari di suatu sekolah, dalam pertemuan wali murid yang diadakan setiap tahun. Di tengah acara yang sedang berlangsung, tiba-tiba seorang guru memanggil salah satu muridnya ke depan. Murid itu berjalan dengan sopan di depan barisan kursi duduk para orang tua. Sang guru lalu berkata kepada murid itu,

“Tulislah hasil perkalian angka 9 dengan angka 1 sampai 10!”

Murid itu pun mengangguk lalu berjalan mendekati papan tulis. Ia menuliskan perintah gurunya dengan senang hati. Lalu nampak pula ia sesekali berhitung dengan jari-jarinya. Para orang tua pun antusias melihat murid itu menulis jawabannya. Hingga beberapa saat kemudian murid itu berkata pada gurunya bahwa ia telah selesai mengerjakan perintah gurunya. Lalu nampaklah di papan tulis itu,

1 x 9 = 9

2 x 9 = 20

3 x 9 = 27

4 x 9 = 36

5 x 9 = 45

6 x 9 = 58

7 x 9 = 63

8 x 9 = 72

9 x 9 = 81

10 x 9 = 90

Gurunya pun tersenyum melihat jawaban si murid, namun berbeda halnya dengan para orang tua. Ada yang heran, ada yang tertawa kecil, ada yang berbisik-bisik, ada yang nunjuk-nunjuk jawaban si murid di papan tulis yang nampak salah. Kemudian sang guru mendekati si murid dan papan tulisnya, lalu menuliskan nilai 100 atas pekerjaan si murid itu. Serta memberikan selamat dan menyuruh si murid lebih giat belajar lagi. Seraya meminta para orang tua untuk memberikan tepuk tangan kepada murid itu. Namun terdengar hanya ada satu dua yang memberikan tepuk tangan. Beberapa saat kemudian, beberapa orang tua menjadi saling berucap pelan. Sang guru pun bertanya pada para orang tua.

“Bapak Ibu semua, bagaimana jawaban dari murid saya ini?”

Terdengarlah jawaban bersahutan dari para orang tua.

“Lho Pak, itu jawabannya salah lho.”

“Pak kenapa dinilai 100? jawaban yang kedua dan keenam itu kan salah?”

“Pak guru, 2 x 9 = 18? 6 x 9 = 54?”

Sang guru pun tersenyum lagi, para orang tua kembali heran. Kemudian ia berkata dengan tenang,

“Iya benar sekali, 2 x 9 = 18 dan 6 x 9 = 54. Saya pun akan memberitahukan itu pada murid saya ini. Namun mengapa anda semua lebih fokus kepada dua kesalahan yang ia perbuat, daripada delapan yang ia jawab dengan benar?”

Para orang tua pun seketika menjadi terdiam dan merenungi perkataan dari guru tersebut. Guru itu pun menjelaskan, bahwa nilai seratus yang ia beri itu berupa apresiasi dari usaha muridnya tadi. Bukan nilai dari koreksi atas jawaban-jawabannya. Serta ucapan selamat yang diberikan kepada murid itu adalah untuk memberinya pujian atas keberhasilannya menjawab soal yang lain. Tak lupa ia memberikan pesan agar si murid belajar lebih giat lagi.

——————–

Seringkali kita sebagai orang tua kurang bisa mengapresiasi sekecil apapun keberhasilan anak kita, atau memberikan respon baik seperti ucapan selamat dan pujian. Tatkala ia bisa melakukan sesuatu dengan benar. Kita sering kali lebih fokus kepada kesalahan anak kita, seolah kesalahan yang ada telah menutupi segala keberhasilannya. Bisa jadi kita terlalu berharap anak kita menjadi sosok yang sempurna, punya nilai bagus di sekolah, punya sifat yang tak pernah salah, dan bisa lebih baik dari yang lain.

Tak jarang kita lebih sering memarahinya daripada mengucapkan selamat padanya. Padahal ia juga telah berusaha, padahal ia juga telah belajar, padahal ia masihlah seorang anak-anak yang nantinya bisa berkembang. Salah sedikit diomeli, salah sedikit dimarahi, tidak bisa sepintar anak orang lain dimarahi lagi. Jadinya ia menjadi merasa kurang mendapat apresiasi. Seperti halnya pada cerita di atas, 8 jawaban benar tak mendapat ucapan selamat namun 2 jawaban yang salah lebih banyak disoroti.

Semoga kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari cerita ini, menjadikan kita orang tua yang lebih bijak lagi. Menjadi orang tua yang bisa mengapresiasi kemampuan dan pencapaian anak-anak kita. Sehingga ia merasa semangat dan terdukung oleh orang tuanya. Jangan hanya melihat hasilnya, ajarilah buah hati kita untuk menghargai proses perjuangannya. Seraya baru memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan itu agar tak diulangi lagi.

“Berilah ucapan selamat ketika anak melakukan sesuatu yang benar atau keberhasilan, jangan hanya semangat memarahinya ketika ia melakukan sesuatu yang kita anggap salah atau kegagalan.”